KARMILA

Karmila adalah nama pemberian ayahku, nama yang begitu singkat tanpa ada tambahan kata didepan atau dibelakangnya. Kata ayah nama karmila itu ide dari ibu alasannya agar aku bisa secantik ibuku, benar-benar narsiskan…???. Pernah suatu ketika aku dan ibuku sedang berada didepan rumah, tiba-tiba ada yang memanggil “Karmila….”, dengan spontan kami berdua menoleh secara bersamaan dan itu adalah hal terlucu yang tak bisa aku lupakan sampai saat ini. Namun memori itu sekarang hanya tinggal kenangan manis belaka yang tak mungkin kembali lagi. Ya, sejak lulus SMP ibu telah meninggalkan aku dan ayahku sendirian, kata ayah ibu terkena luekimia dan nyawanya tak dapat tertolong lagi.

Ibu memang tak pernah bercerita kepadaku tentang penyakit yang dideritanya, akupun tak pernah tau kalau selama ini ibu ternyata menyembunyikannya dariku. Memang terasa menyesak karena aku sama sekali tak bisa menolongnya, jangankan menolong, untuk sekedar tau ibu sakit atau tidak saja aku tak bisa. Tapi dibalik semua itu, ayahku adalah orang yang paling terluka atas kepergian ibu, ayah harus berperan ganda demi marawatku seorang. Namun tak berapa lama setelah kematian ibu, kemudian ayah menyusulnya Sekarang aku telah menjadi dokter dan mempunyai dua orang anak, suamiku hanya seorang pegawai kantor biasa, namun hidup kami sangat bahagia, apalagi setelah aku melahirkan anak kedua yang berjenis kelamin perempuan dan aku beri nama “Dani Karmila”, karena mukanya benar-benar mirip dengan ayah dan ibu.

Sekarang umur karmila hampir 2 tahun, sedangkan kakaknya yang bernama akbar sudah berumur 5 tahun. Awalnya keinginan menjadi dokter timbul sejak ibu meninggal dunia dan hanya anggap sebagai cita-cita saja, namun seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa menjadi dokter adalah adalah tugas yang sangat mulia yang patut diacungi jempol, walaupun terkadang ada juga dokter yang menyalahgunakan profesinya. Di rumah sakit orang orang sering memanggilku dengan sebutan “Dokter Tanpa Pamrih”, itu disebabkan karena beberapa kali aku menerima pasien tanpa mau dibayar, tapi itupun sebenarnya aku cek dulu bagaimana kondisi keuangan pasien, jadi bukan semata-mata tanpa sebab.

Hari itu aku mendapatkan surat yang sangat mengejutkan, bagaimana tidak..???surat dari atasan itu ternyata berisi tentang penugasanku ke sebuah tempat dimana tempat itu sedang terjadi konflik yang lumayan parah jadi banyak orang-orang yang terluka. Sore itu juga aku bergegas pulang kerumah, namun sesampainya di rumah ternyata suamiku belum pulang juga, Setelah memandikan kedua buah hatiku dan menemaninya tidur, aku kembali keruang tamu untuk menunggu suamiku pulang. Lima belas menit kemudian terdengar suara mobil dan itu menandakan kalau dia telah pulang dan aku segera menyambutnya dengan muka berseri.Sambil menunggunya mandi aku menyiapkan masakan opor kesukaannya, setelah itu dia melahapnya sampai habis. Saat itu waktu menunjukkan pukul 21.30, aku sedikit menghela nafas sebelum akhirnya berbicara tentang penugasan itu. Pada mulanya suamikau sangat keberatan menerima tugas itu, pasalnya jika demikian itu artinya ia harus mengurus anak-anak sendirian sampai aku pulang kembali, aku sendiri sebenarnya juga masih sangat bingung, bingung harus memilih antara dua pilihan apakah akan meninggalkan keluarga yang selama ini dicintainya ataukah harus menolong orang-orang di seberang sana yang sedang sangat membutuhkan bantuan…????. Beberapa menit kemudian setelah berpikir lama suamiku berkata bahwa tidak apa kalau aku mau mengemban tugas mulia itu, dia yang akan menjelaskan kepada anak-anak.Semaleman aku tak bisa tidur karena masih memikirkan hal itu. Pagi itu aku telah mengambil keputusan yang paling penting dalam hidupku, akhirnya aku memilih untuk berangkat besok.

Hari ini aku ingin suamiku cuti kantor agar kami bisa berkumpul sebelum keberangkatanku ke tempat itu, seharian suami dan anak-ankku aku manjakan,mereka aku maskkan makanan kesukaan mereka masing-masing. Rasanya aku tak mau berpisah dengan mereka, namun ini adalah tugas mulia yang harus aku emban sebagai seorang dokter. Keesokan harinya aku harus berangkat, suami dan anak-anakku hanya mengantarkanku sampai bandara, mereka semua tersenyum melepas kepergianku. Sebenarnya saat itu hatiku perih dan air mataku terus menetes karena harus meninggalkan ketiga “mutiara” dalam hidupku, apalagi kalau mengingat kalau tugas itu harus aku jalani selama 3 bulan, namun aku harus tetap bersabar dan berdoa agar aku dapat kembali dengan selamat dan berkumpul kembali dengan keluargaku. Pagi itu aku telah sampai di tempat tujuan, aku tidur sebentar setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Sebelum aku terlelap, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara gaduh, akupun segera keluar mencari sumber suara dan ternyata ada seseorang dengan penuh luka tembakan yang sedang dipapah oleh dua orang di sampingnya. Aku melihat ada seorang suster muda yang dengan cekatan langsung menangani orang tersebut, lalu dengan segera aku menghampiri dan berusaha untuk membantu suster itu. Setelah proses selesai, aku mengajaknya berbincang-bincang tentang banyak hal, dari situ aku tahu kalau ia bernama Nadia dan umurnya mungkin setahun lebih muda dariku. Saat berbincang dengan nadia entah kenapa tiba-tiba aku merasa seperti sudah sangat dekat dengannya, mungkin itu disebabkan karena nadia adalah satu-satunya perempuan di camp ini atau memang nadia yang benar-benar membuatku merasa nyaman, entahlah… Hari ini sepertinya aku dan nadia lembur akibat konflik itu banyak korban yang cidera, karena banyaknya korban kami tidak sadar kalau jam telah menunjukan pukul 23.30, namun dengan telaten kami tetap merawat mereka. Aku menyuruh nadia untuk beristirahat namun tetap ditolaknya, katanya dia tak ingin ada satu korban yang telat mendapat perawatan. Menurutku nadia lebih dari dari seorang suster yang hanya ingin menjalankan tugas saja, jiwa kemanusiaannya sangat patut untuk diacungi jempol, namun di balik itu semua ada sesuatu dalam diri nadia yang membuatku bertannya-tanya,” Sesuatu apakah yeang membuatnya mempunyai semangat yang begitu besar?”. Setelah pukul 02.00 akhirnya kami selesai, kami kembali ke camp untuk segera beristirahat, dengan segera nadia membersihkan tubuhnya dan segera pergi tidur, sedangkan aku masih saja memikirkan pertanyaan yang ada dalam pikiranku tadi. Saat aku belum bisa memejamkan mata tiba-tiba bayangan suami dan anak-anakku muncul dan itu membuatku kangen dan ingin sekali bertemu dengan mereka, akhirnya karena begitu lelah lama-kelamaan aku tertidur juga.

Pagi harinya dengan masih sangat penasaran aku memberanikan diri untuk bertanya kepada nadia tentang apa yang aku pikirkan semalam, dengan senyum khasnya nadia balik bertanya padaku, “Apa yang ingin kau tanyakan padaku karmila?”. aku menceritakan semua yang ada dalam pikiranku saat ini,sesaat nadia terdiam..namun kemudian mengalirlah sebuah cerita darinya. Saat itu nadia baru saja resmi menjadi seorang dokter disebuah rumah sakit ternama,ketika dengan tiba-tiba ada seorang ibu dengan kaki yang cacat dan kondisi yang sangat memprihatinkan,pakaiannya sangat lusuh dan kotor, ia masuk dengan membawa seorang anak balitanya yang sedang sakit, jika dilihat dari kondisinya, sepertinya anak itu sedang sakit parah. Dengan tertatih-tatih ibu itu berlari kesana kemari mencari pertolongan namun belum juga ada seseorang yang mau melayaninya, nadia bingung kenapa mereka bersikap demikian, mungkinkah karena penampilan sang ibu yang membuat mereka enggan menolonganya?jika memang demikian adanya, begitu picik mereka itu. Namun sesaat kemudian tiba-tiba sang ibu terduduk dan menangis dengan keras,ibu itu baru menyadari kalau anaknya ternyata sudah meninggal. Pemandangan memilukan itu membuat nadia terpaku dan tak bisa berbuat apa-apa,seolah-olah ia tersihir dan tak bisa bergerak sama sekali. Sampai beberapa hari nadia terus memikirkan kejadian itu, terkadang ia merasa sangat bersalah karena saat itu ia tidak dapat menolong ibu malang tersebut,bahkan nadia sampai sakit karena terus memikirkan hal itu. Saat nadia sakit tiba-tiba ada sesuatu yang membuatnya sangat bersemangat agar cepat sembuh dan segera keluar dari rumah sakit. Berangsur-angsur nadia mulai sembuh, ia ingin segera melakukan sesuatu yang sangat penting dan ia sangat yakin dengan hal itu.

Keesokannya nadia bergegas kerumah sakit, ternyata nadia ingin berhenti dari rumah sakit itu dan semua itu ternyata karena ia semata-mata ingin menjadi dokter sukarelawan yang bebas menentukan siapa saja orang yang berhak menjadi pasiennya tanpa pandang bulu, dan itu semua karena nadia tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi didepan matanya. Cerita nadia benar-benar menyentuh hati, sekarang aku tahu apa yang membuatnya semangat dalam menolong orang dan juga pengorbanannya yang besar tanpa pamrih. Mendengar cerita itu sesekali aku meneteskan air mata yang memang tak bisa ku tahan lagi, aku membayangkan seandainya ibu itu adalah aku, betapa sedih dan sakitnya karena diperlakukan demikian…lagi-lagi bayangan anakku muncul, kali ini aku begitu ingin bertemu dan memeluk mereka. Seminggu lagi tugasku disini selesai,selain itu konflik juga sudah mulai mereda.Tak sabar aku ingin segera pulang,namun masih ada beberapa orang yang masih harus dirawat, aku berjanji akan segera pulang setelah semuanya selesai. “Anakku,sabar dan tunggulah, ibu akan segera pulang untuk kalian”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: