Janji Dila

Dengan muka berseri-seri  Dila mulai berkemas, gadis cantik yang duduk di bangku SMA ini sangat periang. Hari-harinya selalu ia lewati dengan senyum indah, semangatnya luar biasa. Apalagi jika ia hendak bersekolah, baginya ke sekolah adalah hal yang paling menyenangkan. Dengan bersekolah artinya ia bisa mendapat lebih banyak ilmu yang akan dapat membawanya menyongsong cita-cita dan kehidupan yan lebih baik. Semua mata pelajaran di kelasnya bisa dengan cepat ia kuasai, tak hanya matematika, tapi juga fisika, kimia, bahasa Indonesia dan bahasa |Inggris, sampai bahasa Jawa , menurutnya  ilmu itu bagaikan air yang akan selalu dibutuhkan oleh makhluk hidup di dunia ini.

Dila tinggal bersama ke 2 orang tua dan 4 adiknya masih kecil-kecil, ia adalah anak paling sulung. Selama ini keluarganyalah yang membuat ia  bersemangat untuk menuntut ilmu, serta menjadi penyemangat bagi dalam hidupnya. Ayahnya adalah seorang guru ngaji yang sesekali pergi ke seberang desa untuk berjualan jamu, hasil dari penjualan jamu ini belum dapat mencukupi perekonomian keluarganya, di tambah lagi dengan adanya biaya sekolah Dila dan adiknya yang lumayan mahal, dari situ  ibunya berinisiatif untuk berjualan makanan untuk menambah-nambah penghasilan. Seperti biasa, siang itu sepulang sekolah Dila pergi ke sebuah warung yang tidak jauh dari rumahnya, warung itu adalah warung milik ibunya, bahkan sejak Dila masih kecil, warung itu menjadi satu-satunya  yang dapat membantu perekonomian keluarganya. setiap hari sepulang sekolah Dila membantu ibunya berjualan.

“Dila antarkan makanan ini ke Bu Dewi ya….”, tiba-tiba terdengar suara ibunya memanggil, dengan cepat Dila melaksankan perintah ibunya. Tak terasa jam telah menunjukan angka 12 lebih, itu berarti waktunya untuk pulang. Walaupun ia hanya bisa membantu ibunya untuk membawakan barang dagangan saja, tapi cukuplah untuk sedikit meringankan beban ibunya. Setelah mengantarkan makanan, Dila buru-buru  membereskan barang-barang  yang akan dibawanya pulang, barangnya memang lumayan banyak karena semua makanan di warung itu harus dibawa pulang  jika tidak mau disatroni oleh maling kelaparan,jadi hanya toples dan beberapa barang saja yang ditinggal,itupun terkadang masih ada juga tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Jalan menuju rumahnya lumayan jauh dan menanjak, Dila dan ibunya berjalan kaki karena ditempat itu memang tidak ada kendaraan umum. Dari jauh Dila melihat ibunya kelelahan, namun sesekali ibunya duduk dan melepas rinjing yang digendongnya.Dengan tubuh yang semakin renta ibu tetap saja bersemangat untuk mencari nafkah dan berjuang keras demi membantu ayahnya agar dapat memberikan pendidikan yang layak bagi anaknya.

Melihat pemandangan itu tak terasa perlahan air matanya menetes,sejak saat itu dalam hatinya dila berjanji akan membahagiakan keluarga terutama ibunya, ia tidak akan membiarkan ibunya bekerja keras lagi. Dalam kesidahan itu hanya satu kalimat yang keluar  dari mulut Dila “I love you bu…”.Kejadian siang itu seakan-akan  menjadi “cambuk” penyemangat dalam hidupnya. Setelah lulus SMA, Dila mengikuti pendaftaran UMPTN dan akhirnya diterima di salah satu perguruan tinggi negri di pekanbaru. Besoknya dengan persiapan yang matang dila meminta izin agar dapat segera pergi ke pekanbaru, kebetulan tantenya juga bekerja disana jadi untuk sementara ia bisa tinggal di sana. Namun tak disangka ayahnya kurang setuju dengan rencana dila, dari dulu ayah dila memang tidak begitu suka kalau anak-anaknya belajar ilmu umum, menurutnya ilmu umum itu tidak sepenting ilmu agama dan hanya ilmu agama yang kelak akan berguna. Tau ayahnya bereaksi seperti itu, dengan perlahan dila menjelaskan bahwa ilmu umum itu sama pentingnya dengan ilmu agama. Walaupun perdebatan terjadi cukup lama namun dengan berat hati akhirnya ayah dila mau melepaskan putri sulungnya itu.

Babak baru telah di mulai, sesampainya di pekanbaru dila agak bingung karena tante yang ia tunggu belum datang juga. Baginya ini adalah kali pertama ia pergi jauh, apalagi kota itu  tampak begitu asing bagi dila. Namun dengan cepat dila ingat dengan secarik kertas pemberian ibunya yang di dalamnya hanya berisikan nomor telepon tante. Mau tidak mau dila harus mencari telepon umum, tujuannya hanya satu yaitu agar dapat secepatnya bertemu dengan  tantenya dan segera beristirahat, seharian di jalan membuatnya sangat sangat lelah.

Setelah seminggu dila tinggal bersama tantenya, akahirnya tiba waktunya untuk masuk kuliah. Hari pertama kedua dila belum  mendapat teman, namun hari ini ia berharap akan menemukan teman yang cocok. Saat pelajaran fisika dimulai dila berkenalan dengan seorang gadis manis bernama Rani  yang  berasal dari jawa. Saat mata kuliah fisika selesai dila dan rani sudah seperti teman lama saja, bahkan sesekali mereka tertawa dengan riang seolah-olah tidak ada beban. Lama kelamaan mereka jadi teman akrab, duduk selalu bersebelahan, makan bareng, pulang kuliahpun sama-sama, itupun karena kebetulan rumah mereka satu arah.

Tak terasa sebulan sudah dila tinggal di rumah tantenya, dila berniat mencari kos-kosan yang dekat dengan kampus agar bisa lebih menghemat biaya pengeluaran, apalagi ibu dan ayahnya jarang sekali memberinya uang, dilapun tidak pernah berharap kalau ayah ibunya akan menopang biaya kuliahnya seperti dulu saat mereka membiayainya sekolah, dila tidak mau merepotkan mereka terus menerus. Hari itu dila meminta izin agar tantenya memberinya izin untuk pindah kekosan, dila bercerita kalau di kosan ia akan tinggal bersama rani temannya, biaya kosanpun akan mereka tanggung bersama. Sore itu juga dila resmi pindah ke kosan barunya, tempat itu hanya terdapat satu kamar, satu ruang tamu dan satu kamar mandi. Tadinya dila mendapatkan tempat yang lebih bagus dengan 2 kamar, namun biayanya lebih mahal, lokasinya juga agak jauh dari kampus, akhirnya agar lebih menghemat uang, mereka sutuju untuk mengambil kosan ini.

Dengan tuntutan biaya hidup dan kuliah yang tidak sedikit mengharuskan dila untuk bekerja lebih keras, ia bahkan punya kenalan ibu-ibu di pasar yang menjadi pemasok jamu racikan (murni dari bahan alami), awalnya dila masih sangat kaku saat berjualan, namun lama kelamaan setelah ia mendapat masukan dari para ibu tentang bagaimana cara berjualan jamu, akhirnya iapun menjadi mahir. Hasil dari penjualan jamu lumayan untuk menambah uang saku, terkadang sehari/dua hari satu mata kuliah tidak diikutinya, walau demikian dila teteplah dila, ia tetap semangat untuk mencari ilmu bahkan sebagai gantinya biasanya pada malam hari selalu ia gunakan untuk belajar. Demi cintanya kepada kedua orang tuanya dila tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang telah ia dapat dengan susah payah, perjuangannya agar bisa masuk perguruan tinggi negeri dan cita-citanya yang menggebu benar-benar dijadikannya sebagai penyemangat, baginya orang tua dan keluarga adalah segalanya.

Cukup membanggakan karena dikampusnya dila mendapat  beasiswa ,setidaknya beasiswa itu dapat sedikit meringankan beban kuliahnya. Selain itu dikelasnya dila selalu mendapat nilai IPK tertinggi  kedua setelah rani, tiap semesternya dila berusaha untuk mengejar prestasi rani namun tetap saja rani adalah seorang “profesor” baginya, sangat susah untuk dikalahkan. Sampai pada semester terakhir nilai tertinggi  IPK tetap dipegang oleh mereka berdua, tak percuma dila selama ini jungkir balik mencari uang untuk  biaya kuliahnya.

Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidup dila, dimana selama 3 tahun ia berhasil menyelesaikan kuliah dan semua itu demi cita-cita yang dipegangnya selama ini. Orang tua yang ia tunggu-tunggu akhrnya datang juga ke wisudanya, saat itu kebetulan dila punya sedikit uang untuk biaya perjalanan ke Pekanbaru, dila ingin orangtuanya bangga melihat putrinya berhasil lulus kuliah dari sebuah perguruan tinggi negri, bahkan dengan nilai terbaik dikampusnya.”Selamat nak…semoga kamu berhasil menggapai semua cita-cita dan keinginanmu…”hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut kedua orang tuanya.

Setelah acara wisuda selesai, orang tuanya kembali  pulang, sedangkan dila masih tinggal dikosannya bersama rani, rencananya mereka akan bersama-sama mencari pekerjaan di Pekanbaru. Dengan bekal ijazah yang mereka miliki, mereka melamar ke sebuah perusahaan ternama di Indonesia yang bercabang di kota itu. Tiga hari mereka menunggu tak ada balasan juga, tepat pada hari keempat mereka mendapat surat balasan yang isinya bahwa mereka harus datang besok untuk wawancara, mereke berdua sangat senang bukan kepalang,apalagi mereka berdua ternyata bisa diterima, walaupun itu masih keputusan  sementara. Keesokan harinya dila dan rani datang tepat waktu ke perusahaan tersebut, dengan sedikit nervous mereka masuk ke ruang wawancara. Rani mendapat giliran pertama, sedangkan dila menunggu di luar. Sejam kemudian rani keluar,entah kenapa mukanya tampak sedikit sedih dan ragu. Sekarang gilirannya wawancara, berada di ruangan itu membuatnya agak sedikit nervous dan takut namun ia segera menyembunyikan perasaan itu. Beberapa saat kemudian beberapa pertanyaan langsung ditujukan kepadanya, semua pertanyaan itu ia jawab dengan sangat yakin. Hari itu mereka pulang dengan pikiran mereka masing-masing, mereka terus berpikir apakah mereka akan diterima atau tidak. Empat hari kemudian surat panggilan datang, dila bersorak gembira karena ia ternyata diterima di perusahaan itu, tapi dila kaget setengah mati karena ternyata rani tidak diterima seperti dirinya. Dila merasa sedih dan juga sedikit tidak enak, tapi dengan santai rani berkata “Bersyukurlah dil, mungkin itu memang sudah menjadi rejekimu dan buka rejekiku, dan mungkin rejekiku ada di tempat lain”. Setelah resmi menjadi karyawan, dila menyuruh orang tuanya berhenti bekerja dan cukup beristirahat di rumah saja, sekarang giliran dila yang harus berbakti dan membahagiakan mereka dan adik-adiknya. Tak henti-hentinya dila mengucap syukur kepada yang kuasa karena telah mengabulkan doa-doanya, tak jarang juga dila menyisakan sedikit uangnya untuk membantu orang-orang tidak mampu.



1 Comment »

  1. auauau……cerita terinspirasi dari mana mbak?


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: